Kamis, 16 Juni 2011

LEPTOSPIROSIS

LEPTOSPIROSIS ICD – 9 100; ICD – 10 A27
(Penyakit Weil, Demam Canicola, Ikterus Hemoragika, demam lumpur, penyakit Swinerherd)


1. Identifikasi
Kelompok penyakit zoonis yang disebabkan oleh bakteri dengan manifestasi berubah-ubah. Ciri-ciri yang umum adalah demam dengan serangan tiba-tiba, sakit kepala, menggigil, mialgia berat (betis dan kaki ) dan merah pada conjuctiva. Manifestasi lain yang mungkin muncul adalah demam diphasic, meningitis, ruam (palatal exanthem), anemia hemolytic, pendarahan didalam kulit dan selaput lendir, gatal hepatorenol, gangguan mental dan depresi, myocarditis dan radang paru-paru dengan atau tanpa hemopthisis. Didaerah yang endemis leptospirosis, mayoritas infeksi tidak jelas secara klinis atau terlalu ringan untuk didiagnosa secara pasti.
Kasus sering didiagnosa salah sebagai meningitis, ecefalitis atau influenza; buktiserologis adanya infeksi leptospira ditemukan diantara 10 % kasus meningitis dan encephalitis yang tidak terdiagnosa. Gejala klinis berlangsung selama beberapa hari sampai 3 minggu atau lebih. Secara umum, ada dua fase dari penyakit; tahap leptospiremia atau febris, diikuti dengan fase pemulihan atau kekebalan. Penyembuhan kasus yang tidak diobati akan memerlukan waktu beberapa bulan. Infeksi dapat terjadi tanpa adanya gejala; keparahan penyakit bervariuasi sesuai dengan serovarian bakteri yang menginfeksi. Angka kematian kasus cukup rendah tetapi dapat meningkat seiring dengan bertambahnya usia dan dapat mencapai 20 % atau lebih pada penderita yang mengalami ikterus dan kerusakan ginjal yang tidak dilakukan hemodialisis; kematian umumnya disebabkan oleh kerusakan hepatorenal, kelainan pembuluh darah disertai dengan perdarahan, terjadinya sindroma gagal pernafasan pada orang dewasa atau aritmia jantung dikarenakan miokarditis. Jenis letospira yang berbeda ditemukan pada lokasi yang berbeda sehingga tes serologi harus menggunakan panel yang khusus untuk mendiagnosa leptospira di suatu daerah tertentu. Kesulitan dalam mendiagnosa penyakit ini menyulitkan upaya pemberantasan sehingga sering menyebabkan peningkatan angka kematian karena penderita cenderung menjadi berat karena tidak dilakukan diagnosa dan pengobatan yang tepat. Diagnosa ditegakkan dengan adanya peningkatan titer antibody pemeriksaan serologis seperti dengan aglutinasi mikroskopik, dengan isolasi leptospira dari darah (7 hari pertama), atau dari LCS (pada hari ke-4 sampai ke-10) pada fase akut dari urin setelah hari ke-10 dengan menggunakan media khusus. Inokulasi pada marmot dan tikus hamster atau gerbil sering memberikan hasil positif. Pemeriksaan dengan teknik IF dan ELISA dipakai untuk mendeteksi leptospira pada specimen penderita dan specimen yang daimbil pada otopsi.

2. Penyebab penyakit
Penyebab penyakit adalah Leptospira, anggota dari ordo Spirochaetales. Leptospira yang menularkan penyakit termasuk kedalam spesies Leptospira interrogans, yang dibagi lagi menjadi berbagai serovarian. Lebih dari 200 serovarian telah diketahui, dan semuanya terbagi dalam 23 kelompok (serogroup) yang didasarkan pada keterkaitan serologis. Perubahan penting dalam penamaan (nomenklatur) leptospira sedang dibuat didasarkan atas keterkaitan DNA. Serovarian yang umum ditemukan di AS adalah Icterohaemorrhagiae, canicola, autumnalis, hebdomidis, australis dan pomona. Di Inggris, New Zealand dan Australia, infeksi L. interrogans serovarian hardjo paling sering terjadi pada manusia yang kontak dekat dengan perternakan yang terinfeksi.

3. Distribusi Penyakit
Penyakit ini tersebar luas di seluruh dunia; muncul di daerah perkotaan dan pedesaan baik di Negara maju maupun Negara berkembang kecuali daerah kutub. Penyakit ini dapat terjadi sebagai risiko pekerjaan (occupational hazard) menyerang petani padi dan tebu, pekerja tambang, dokter hewan, peternak, peternak sapi perah, pekerja yang berkerja di pemotongan hewan, nelayan dan tentara. KLB dapat terjadi pada orang-orang yang trepajan dengan sungai, kanal dan danau yang airnya tercemar dengan urin dari binatang
peliharaan dan binatang liar atau tercemar urin dan jaringan binatang yang terinfeksi. Penyakit ini juga merupakan risiko rekreasi (recreational hazard). Bagi perenang, pendaki gunung, olahrawagawan, dan mereka yang berkemah di daerah infeksi. Dengan demikian penyakit ini terutama menyerang laki-laki terkait dengan pekerjaan, namun cenderung terjadi peningkatan jumlah penderita pada anak-anak di daerah perkotaan. KLB yang cukup besar di Nikaragua pada tahun 1995 dan menimbulkan banyak kematian. Dan pada Februari 1997-1998 KLB terjadi di India, Singapura, Thailand dan Kazaktan

4. Reservoir
Hewan peliharaan dan binatang liar; serovarian berbeda-beda pada setiap hewan yang terinfeksi. Khususnya tikus besar (ichterohemorrhagiae), babi (pomona), lembu (hardjo), anjing (canicola), dan raccoon (autumnalis) di AS, babi terbukti menjadi tempat hidup bratislava; sedangkan di Eropa badger sejenis mamalia carnivora juga dilaporkan sebagai reservoir. Ada banyak hewan lain yang dapat menjadi
hospes alternative, biasanya berperan sebagai carrier dalam waktu singkat. Hewan-hewan tersebut adalah binatang pengerat liar, rusa, tupai, rubah, raccoon, mamalia laut (singa laut). Serovarian yang menginfeksi reptile dan amfibi belum terbukti dapat menginfeksi mamalia, namun di Barbados dan Trinidad dicurigai telah menginfeksi manusia. Pada binatang carrier terjadi infeksi asimtomatik, leptospira ada didalam tubulus renalis binatang tersebut sehingga terjadi leptuspiruria seumur hidup binatang tersebut.

5. Cara penularan
Melalui Kontak pada kulit, khususnya apabila terluka, atau kontak selaput lendir dengan air, tanah basah atau tanaman, khususnya tanaman tebu yang terkontaminasi dengan urin hewan yang terinfeksi, berenang, luka yang terjadi karena kecelakaan kerja; kontak langsung dengan urin atau jaringan tubuh hewan yang terinfeksi; kadang kadang melalui makanan yang terkontaminasi dengan urin dari tikus yang
terinfeksi; dean kadang kadang melalui terhirupnya “droplet” dari cairan yang terkontaminasi.

6. Masa inkubasi
Biasanya 10 hari, dengan rentang 4-19 hari.

7. Masa penularan
Penularan langsung dari orang ke orang sangat jarang terjadi. Leptospira dapat dikeluarkan melalui urin, biasanya dalam waktu 1 bulan, tetapi leptospiruria telah ditemukan pada manusia dan hewan dalam waktu 11 bulan setelah menderita penyakit akut.

8. Kerentanan dan kekebalan
Pada umumnya orang rentan; kekebalan timbul terhadap serovarian tertentu yang disebabkan oleh infeksi alamiah atau (kadang-kadang) setelah pemberian imunisasi tetapi kekebalan ini belum tentu dapat melindungi orang dari infeksi serovarian yang berbeda.

9. Cara – cara pemberantasan

A. Upaya pencegahan :
1) Beri penyuluhan kepada masyarakat tentang cara-cara penularan penyakit ini. Jangan berenang atau menyeberangi sungai yang airnya diduga tercemar oleh leptospira, dan gunakan alat-alat pelindung yang diperlukan apabila harus bekerja pada perariran yang tercemar.
2) Lindungi para pekerja yang bekerja di daerah yang tercemar dengan perlindungan secukupnya dengan menyediakan sepatu boot, sarung tangan dan apron.
3) Kenali tanah dan air yang berpotensi terkontaminasi dan keringkan air tersebut jika memungkinkan.
4) Berantas hewan-hewan pengerat dari lingkungan pemukiman terutama di pedesaan dan tempat-tempat rekreasi. Bakar lading tebu sebelum panen.
5) Pisahkanhewan peliharaan yang terinfeksi; cegah kontaminasi pada lingkungan manusia, tempat kerja dan tempat rekreasioleh urin hewan yang terinfeksi.
6) Pemberian imunisasi kepada hewan ternak dan binatang peliharaan dapat mencegah timbulnya penyakit, tetapi tidak emncegah terjadinya infeksi leptospiruria. Vaksin harus mengandung strain domain dari leptospira di daerah itu.
7) Imunisasi diberikan kepada orang yang karena pekerjaannya terpajan denganleptospira jenis serovarian tertentu, hal ini dilakukan di Jepang, Cina, Itali, Spanyol, Perancis dan Israel.
8) Doxycycline telah terbukti efektif untuk mencegah leptospirosis pada anggota militer dengan memberikan dosis oral 200 mg seminggu sekali selama masa penularan di Panama.

B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekiratnya :
1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat: Pelaporan kasus diwajibkan
dibanyak negara bagian ( AS) dan negara lain di dunia, Klasifikasi 2B (lihat
tentang laporan penyakit smenular)
2) Isolasi: Tindakan kewaspadan terhadap darah dan cairan tubuh.
3) Disinfeksi serentak: Dilakukan terhadap benda yang tercemar dengan urin.
4) Karantina: TIDAK DILAKUKAN.
5) Imunisasi terhadap kontak: TIDAK DILAKUKAN.
6) Investigasi orang-orang yang kontak dan sumber infeksi: Selidiki adanya hewanhewan yang terinfeksi dan air yang terkontaminasi.
7) Pengobatan spesifik: Penisilin, cephalosporin lincommycin dan erythromycin menghambat pertumbuhan leptospira invitro. Doxycyline dan penisilin G terbukti efektif dalam percobaan “Double Blind Plasebo Controlled trials‘’ Penisilin G dan amoksisilin terbukti masih efektif walaupun diberikan dalam 7 hari sakit. Namun pengobatan yang tepat dan sedini mungkin sangatlah penting.

C. Penanggulangan wabah: 
Mencari sumber infeksi seperti kolam renang yang terkontaminasi dan sumber air lainnya; menghilangkan kontaminasi atau melarang penggunaannya. Menyelidiki sumber penyakit dan lingkungan pekerjaan, termasuk mereka yang kontak langsung dengan hewan.

D. Implikasi bencana:
Potensial untuk terjadi penularan dan KLB pada saatterjadi banjir yang menggenagi daerah sekitarnya.

E. Tindakan internasional:
Manfaatkan pusat kerjasama WHO.

PUSTAKA
Kandun, I.N., 2000, Manual Pemberantasan Penyakit Menular Edisi 17, James chin MD. MPH Editor (tidak diperjual belikan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar