Tampilkan postingan dengan label Sajak-sajak Lutvi Heryantoro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak-sajak Lutvi Heryantoro. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Oktober 2011

KEPADA KAWAN



Kawan
Aku sedih menyaksikan semua telah berubah
sementara lihar aku lusuh
dan waktu belum mampu merubahku


Dia yang kemarin tertawa bersama kini telah sibuk dengan tawanya sendiri
Dia yang kemarin bersandar di bahu
Kini harus menjaga dan bersandar di bahu yang lain
Dia yang kemarin bersama dan kini ku nanti tak peduli
Begitulah masa lalu, mungkin kau juga ingat itu
Apakah kau juga akhirnya juga akan pergi?


Tak ada yang salah dengan ini!!
:
Kawan aku merindukan kebersamaan dulu lagi
Nuansa yang mungkin tak kembali


Kawan dalam mulut yang diam ini hati bergolak
Ingin menolak
Apa mungkin aku yang lamban bergerak
Sehingga aku merasa diperasing suasana
Atau mungkin akulah yang memperasing suasana


Sebenarnya aku menaruh cinta yang begitu besar untuk persahbatan kita


Yogyakarta, 30 Agustus 2011

Minggu, 19 Juni 2011

TERUSLAH MELANGKAH


Dari setiap kenangan yang pernah terjadi 
Menbuatku tegak berdiri jauh lebih kuat 
Menjadi orang yang semakin mengenal diri 
Dan bisa lebih berkompromi dengan situasi yang tak diingini 

Saat kudengar orang meneriaki ku 
Aku takkan peduli, aku akan bangun 
Beban akan mengalir lebih cepat dari kita kita fikirkan 
Berani dan percaya pada diri 
Caci-maki akan berubah menjadi puji 
Dan orang-orang akan bernyanyi untuk kemenanga ini 

Melangkah dengan pasti 
Dan percayalah selalu ada yang akan menjaga arah 
Jangan pernah menyerah 
Halangan dapat menjadi lebih mudah dari yang kita kira 

 Yogyakarta, 19 Juni 2011

Minggu, 12 Juni 2011

Senyum Kecil di Suatu Malam

Yang malam ini ketika aku diam tiba-tiba kau buat tertawa
Yang malam ini ketika aku berdoa tiba-tiba kau datang bagai sebuah jawaban
Yang malam ini ketika aku merasakan hati pada relung terdalam tiba-tiba kau membuatnya bergetar

Aku tertawa kecil....
Ketika menyadiri perlahan padanganku mulai dapat melihat kembali di keadaan yang suram,

Apa kau penjual lensa di hari menjelang senja??
Ah... tidak! aku tak pernah mengeluarkan speser uang pun untukmu...
Mungkinkah memang ini kehidupan yang sudah bergaris
Sungguh kehadiranmu membuat jalan itu mulai terlihat lagi
Ingin kembali berjalan
Kembali, kembali pada jalan yang seharusnya di langkah pasti
Walau sadarku keyakinan ini belum tersusun benar di langkah awal berpijak dan cara kembali berjalan

Terlihat kau tersenyum manis
Apakah itu sebuah tawaran atas kesediaanmu memapahku???


Yogyakarta, 10 Juni 2011

TUNDA DULU

Walah….! aku males menerima kedatangan mu
Yang semalam menyiksa-membanting ku

Bolak (kau sakiti) balik (kau khianati)

Empedu terbungkus madu
Tak mau ku cicip lagi
Tak perlu merayu
Aku hanya ingin menikmati kopi
Itu saja
Yang lain tunda di lain pagi

Yogyakarta, 7 Oktober 2009

KALAH

Telah ku persembahkan seluruh
Jiwa juga rasa yang mulai bergemuruh
Hanya dipandangnya dengan kepala belakang
Sakit menusuk
Aku diam saja dan menunduk


Ku tampik segala suara yang ingin mendatangi ku
Untuk mu
Ku tunggu
Sampai keramaian itu membeku
Termangu
Dan wujud kedatangan mu itu semu


Tuhan!
Rela sudah kini kau ambil itu
Keteguhan dalam penantian yang selama ini ku mintakan pada-Mu
Biar jiwa jadi tak tersiksa
Biar dia bebas berkata apa-apa
Dari hadirku mungkin ia ingin merdeka


Yogyakarta, 6 Desember 2009

UNTUK KAKEK


Tak ada suara lagi
Angin berhenti berhembus
Daun-daun kering lak lagi mengesek dinding rumah


Entah….
3 x 7
16 lebih 7
Atau
Hanya kurang 1 dari 2010
Akhir dari ini


Tak ku temu,
Jawab itu
Semua sudah membisu,
Membeku dan kaku


Sampai juga ini waktu
Ku hantarkan kau hingga ke pintu rumah (tempat semestinya)
Hampa udara
Sampai di sini saja, selanjutnya biar do,a yang bekerja


Yogyakarta, 21 September 2009

DIA YANG KAU TUNGGU

Ini waktu yang dulu kau tunggu
Memberi tatapan terakhir pada anak dan menantu

Tibanya waktu memang tak menentu
Begitu juga kau
Yang tak sanggup menemu ini waktu

Kami tau kau tlah coba bertahan
Menyerahkan segala kekuatan
Namun kepada ajal tak bisa kau melawan

Ketika mereka  datang
Nafas mu telah hilang
Ketika merekan datang
Tubuh mu telah usang

Biarkan mereka kini yang datang menemu
Menatap rindu di nisan mu
Sambil membisik do’a di balik kalbu

            Yogyakarta, 2 Desember 2009

Jumat, 10 Juni 2011

Pisah


Sepertinya sudah dulu aku memandangmu
Sampai nanti kau memanggilku

Bukan aku yang menyerah
Tapi waktu yang ingin ini sudah

Yogyakata, 13 Desember 2009

Minggu, 24 April 2011

DARI IBU UNTUKMU

Mari mendekatlah sayang....
Biar kupeluk dirimu..


Aku melihat kelelahan dimatamu
Aku merasakan betapa galau hatimu


Mari kugengam erat tanganmu
Biar kutuntun kau ke jalan yang kau mau
Menjaga rasamu dari takut


Ku tau kau tak lagi bocah kecilku yang lucu
Namun cinta ini selalu begitu
Sama selalu
Sedari dulu


Jangan kau merasa terasing di dunia
Mari sayang
Mari kupeluk erat,
Letakan peluhmu di dadaku
Pejamkan matamu yang telihat lelah 


Dan disini selalu akan menjadi rumah terhangat ketika kau menggigil


Yoyakarta,23 April 2011

Rabu, 30 Maret 2011

NARASI DI BALIK BILIK

Aku ingin mencari malam,
Dia mana tak ku jumpa lagi kelam, 
Aku terus berdiam,
Tak jua ku rasa luka nang meredam, 
Bintang terkelip redup tersedak, 
Merajuk bidadari kecil di balik bilik,
Mengosong, mengasing, dan terisak, 

Tak bersarang sajakan angin pekat nang dingin, 
Hingga gelap tak lagi selimuti malam, 


Tik, 
Tertetes, 
Tetes ini berasa embun atau mata nang berdentum?
Dari balik mana malaikat merajut luka beralur kusut,

Sampai jemari terlentik tak mampu mengurut,. 


Akhirnya
Dahi pun berkerut, 
Beku – ku,
Letih – ku,
Penat – ku,. 
Dan berdiriku kembali terguyum dibalik bilik,
Sisakan dingin berbalut sepi,


Malam tetep gelap
Dingin tetap menggigil,
Sepi tetap memanggil,
Berumah-nya dan aku tetap sendiri. 


Yogyakarta, 28 Oktober 2006

Jumat, 11 Maret 2011

SENDU BISU

Diraut mu sering terlihat duka
Tak seperti malam ini, Ini kali pertama
Terlihat maha duka betahta,
Menggantung di wajah mu,
Sendu


Kau di jendela kamarmu atas
Sementara aku berdiri di bawah, menengadah
Melepas pandang dalam bimbang ke arah wajah tak lepas
Tampak sayu dan mata mu basah
Galau menderu menyerang dengan tanya
Mengapa?


Tak berapa lama
Air matamu jatuh membentur di muka
Ruang-ruang hati jadi gemetar dibuatnya
Aku tak bisa berkata apa-apa
Kau juga


Memandang ku sesaat,
Sebelum akhirnya kau tutup jendela kamar itu rapat
Dan berlalu


 Yogyakarta, 21 November 2009

DONGENG PENANTIAN

Sepi dirundung senyap, malam dibekap gelap. Jangkrik–jangkrik dan dedemit–dedemit serta pengguasa malam nyanyikan senandung kepedihannya sendiri, tralala-tralili menertawakan sepi yang sebenarnya gaun yang ia kenakan dikulit pitam diri.

Tertekan batin dan kata terbekap di tenggorok. Tatkala semua tak tertahan, anjing liar pergi-Lari kemudian berpekik dan alam hanya bisa berkidik.

Serta merta anjing terseok mengendus tapak senyum-pandang hilang, mencumbui tanah tubuh dibayang usang, ½ terkulai harap mengalir di sela candela raya pedih-resah diam berlambang, kemudian bertanya kemana pandang–kemana hilang.

Anjing melangkah mengendus jejak disemat kenang, tak tersentuh cukup mengasuh dalam gelap terang kunang-kunang, itu saja tampak tlah cukup membuatnya diberang senang.

”Lalu apa lagi yang terharap jika alam maunya meremang?”

Jangkrik dan dedemit serta penguasa malam bentak sepi dirundung senyap. Dimulai dari kerikan jangkrik bersaut lolong anjing, dedemit dan penguasa malam mulai kembali berani bersenandung lantunkan jejak kenang seraya menunggu,

”Malam dengan bulan tetap terbaik di hatinya sampai pun ruang-ruang itu semati tugu.”

Yogyakarta, 11 mei 2007

MENYENTUH CAHAYA BULAN

Ketika waktu itu akhirnya terjadi
Masihkah kau memandang ku?
Memintaku untuk mengisi sedikit dari bagian waktumu?
Apakah hatimu selembut angin yang selalu ada di mimpi?
Menyejukan sunyi-sepi yang telah lama menguasai hati


Satu dua tetesan gerimis perlahan membasahi seruas jalan di Jogja
Jalan dimana kepada waktu terserahkan sekantung asa
Kau dan aku saling memandang dengan punggung
Menikmati sendiri pohon-pohon di tepi jalan yang tak begitu nyata
Meresapi hati masing-masing yang semakin terkurung


Kita masih berdiri dan belum saling pandang
Merasakan benturan air yang semakin keras
Memahami dingin yang mulai membuat kita mengigil


Apakah masih akan ku dengar suara kau mengucapkan terimakasih?
Melihatmu datang ke kamarku dan tertawa
Apakah semua itu hanya fatamorgana?
Dimana kelembutanmu hanya angin yang tak bisa kusentuh


Kita memang tak pernah saling sama
Tak terkecuali untuk mencoba


Yogyakarta, 9 Desember 2009

TEBAWA GELOMBANG PASANG


Siapa yang mengajak mu keluar malam?
Mengenalkanmu pada kekelawar hitam

Siapa yang membuat air jiwa mu keruh?
Mengajak mu ketempat yang riuh

Melihatmu dulu menyenangkan
Melihatmu kini menyedihkan

Ketika hari mulai remang
Cahaya itu bisa saja seketika hilang

Masihkah kau akan terus memandang cahaya rembulan
Dan tak mau menyalakan cahaya dari lenteramu sendiri

Sebelum noda semakin ketara
Dan  belum bertugas kecewa dalam dada juga rasa
Apakah kau tak ingin pulang,
Membasuh muka mencari tenang?

Apakah kau terlanjur terkurung,
Atau tak menemukan kendaraan yang akan mengantarmu pulang?

Yogyakarta, 12 Desember 2009

SUARA SEPI TERUNTUK SAHABAT

Ini kali pertama ku merasakan sunyi teramat 
Semua pergi, 
Di sekeliling tak mau mengerti 
Kini sendiri 
Menepi 
Dan sepi menabur duri 


Sahabat…. 
Apa hatiku mulai berkarat? 
Aku mulai ragu pada ketulusan yang sedari dulu ku pegang erat 
Ini pandang mulai goyah 
Melemah karena tak jua diberi rumah 


Sahabat… 
Jika begini Aku bisa apa? 
Dan kau dimana? 


Ini malam kian terasa sepi 
Semua habis tinggal ini 
Secuil kerinduan untuk berbagi 
Jika kau tau segeralah kembali 
Temani aku lagi 


 Yogyakarta, 5 November 2009

Rabu, 09 Maret 2011

SANG LALU

Helaian padi yang menjadi kuning, 
merunduk berbalur embun....
Suasana kini menjadi hening,... 


sang lalu melangkah pergi ke tempat kering 
yang tak mengenal dunia bising.... 
Terlamapau erat sang lalu menempatkan diri di hati 
yang di dalam renung mengisi sela-sela hari 
pada gambar nyata yang fiksi


Walau telah pergi, 
sang lalu di kalbu takkan terhenti dan mati...


Yogyakarta, Maret 2011

UNTUKMU YANG TELAH PERGI

Jika waktu telah datang di penghujung senja……… 
Sepi mulai terasa 
Dan dia yang kemarin telah tiada 
Tawa-tawa terkenang 
Cuma Ingin rehat sejenak 
Agar penat tak lagi tampak 


Serunai………serunai! Apa katamu? 
Kemarilah kita bicara lagi 
Sambil kau pijit pundakku sesekali 
Kan ku bacakan sajak pendek untukmu 
Rasakan…..rasakan 
Malam yang dinginnya kian menekan-nekan di pori 


Tidurlah jika terasa lelah, 
Padamu dengan do’a kan kuselimuti 


Yogyakarta 15 Januari 2011